Sabtu, 12 November 2011

METODE PENILAIAN KONSUMSI MAKANAN

Penilaian konumsi makanan dibagi menjadi tiga yakni penilaian konsumsi makanan tingkat nasional, tingkat rumah tangga dan tingkat individu.

1. Penilaian Konsumsi Makanan Tingkat Nasional

Untuk pengukuran konsumsi makanan pada tingkat nasional dengan cara Food Balance Sheet (FBS).
Langkah-langkah perhitungan FBS antara lain :
a. Menghitung kapasitas produksi makanan dalam satu tahun (berasal dari persediaan atau cadangan, produksi dan import bahan makanan dari negara atau wilayah lain).
b. Dikurangi dengan pengurangan untuk bibit, eksport, kerusakan pasca panen dan transportasi, diberikan untuk makanan ternak dan untuk cadangan.
c. Jumlah makanan yang ada tersebut dibagi dengan jumlah penduduk.
d. Diketahui ketersediaan makanan perkapita, pertahun secara nasional.

Data Food Balace Sheet tidak dapat memberikan informasi tentang distribusi dari makanan yang tersedia tersebut untuk berbagai daerah, apalagi gambaran distribusi di tingkat rumah tangga atau perorangan. Selain itu juga tidak menggambarkan perkiraan konsumsi pangan masyarakat berdasarkan status ekonomi, keadaan ekologi, keadaam musim dan sebagainya. Oleh karena itu, FBS tidak boleh dipakai untuk menetukan status gizi masyarakat suatu Negara atau wilayah. (Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 90)
Berdasarkan kegunaannya data FBS dapat dipakai untuk :
a. Menentukan kebijaksanaan dibidang pertanian seperti produksi bahan makanan dan distribusi.
b. Memperkirakan pola konsumsi masyarakat.
c. Mengetahui perubahan pola konsumsi masyarakat.

2. Penilaian Konsumsi Makanan Tingkat Rumah Tangga

Metode pengukuran konsumsi makanan untuk keluarga atau rumah tangga adalah sebagai berikut :
a. Metode Pencatatan (food account)
Metode pencatatn dilakukan dengan cara keluarga mencatat setiap hari semua makanan yang dibeli, diterima dari orang lain ataupun dari hasil produksi sendiri. Jumlah makanan dicatat dalam URT (ukuran rumah tangga), termasuk harga eceran bahan makanan tersebut. Cara ini tidak memperhitungkan makanan cadangan yang ada di rumah tangga dan juga tidak memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi di luar rumah dan rusak, terbuang atau tersisa atau diberikan pada binatang piaraan. Lamanya pencatatan umumnya tujuh hari. (Gibson, 1990).
Langkah-langkah pencatatan (food account) antara lain :
1) Keluarga mencatat seluruh makanan yang masuk ke rumah yang berasal dari berbagai sumber tiap hari URT (ukuran rumah tangga) atau satuan ukuran volume atau berat.
2) Jumlahkan masing-masing jenis bahan makanan tersebut dan konversikan ke dalam ukuran berat setiap hari.
3) Hitung rata-rata perkiraan penggunaan bahan makanan setiap hari
Kelebihan metode pencatatan :
1) Cepat dan relatif murah
2) Dapat diketahui tingkat ketersediaan bahan makanan keluarga pada periode tertentu.
3) Dapat menjangkau responden lebih banyak.
Kekurangan metode pencatatan :
1) Kurang teliti, sehingga tidak dapat menggambarkan tingkat konsumsi rumah tangga.s
2) Sangat tergantung pada kejujuran responden untuk melaporkan/mencatat makanan dalam keluarga.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 90).
b. Metode pendaftaran makanan (food list method)
Metode pendaftaran ini dilakukan dengan menanyakan dan mencatat seluruh bahan makanan yang digunakan keluarga selama periode survei dilakukan (biasanya 1-7 hari). Pencatatan dilakukan berdasarkan jumlah bahan makanan yang dibeli, harga dan nilai pembelinya, termasuk makanan yang dimakan anggota keluarga diluar rumah. Jadi data yang diperoleh merupakan taksiran/perkiraan dari responden. Metode ini tidak memperhitungkan bahan makanan yang terbuang, rusak atau diberikan pada binatang piaraan.
Jumlah bahan makanan diperkirakan dengan ukuran berat atau URT. Selain itu dapat dipergunakan alat bantu seperti food model atau contoh lainnya (gambar-gambar, contoh bahan makanan aslinya dan sebagainya) untuk membantu daya ingat responden.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara yang dibantu dengan formulir yang telah disiapkan, yaitu kuisioner terstruktur yang memuat daftar bahan makanan utama yang digunakan keluarga. Karena data yang diperoleh merupakan taksiran atau perkiraan maka data yang diperoleh kurang teliti.
Langkah-langkah metode pendaftaran makanan :
1) Catat semua jenis bahan makanan atau makanan yang masuk ke rumah tangga dalam URT berdasarkan jawaban dari responden selama periode survei.
2) Catat jumlah makanan yang dikonsumsi masing-masing anggota keluarga baik dirumah maupun diluar rumah.
3) Jumlahkan semua bahan makanan yang diperoleh.
4) Cata umur dan jenis kelamin anggota keluarga yang ikut makan.
5) Hitung rata-rata perkiraan konsumsi bahan makanan per kapita, dibagi dengan jumlah anggota keluarga.

Kelebihan metode pendaftaran :
1) Relatif murah, karena hanya membutuhkan waktu yang singkat.
Kekurangan metode pendaftaran :
1) Hasil yang diperoleh kurang teliti karena berdasarkan estimasi atau perkiraan.
2) Sangat subyektif, tergantung kejujuran responden.
3) Sangat bergantung pada daya ingat responden.

c. Metode inventaris (infentory method)
Metode inventaris ini juga sering disebut log book method. Prinsipnya dengan cara menghitung atau mengukur semua persediaan makanan di rumah tangga (berat dan jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survei. Semua makanan yang diterima, dibeli dan dari produksi sendiri dicatat dan dihitung/ditimbang setiap hari selama periode pengumpulan data (biasanya sekitar satu minggu). Semua makanan yang terbuang, tersisa dan busuk selama penyimpanan dan diberikan pada orang lain atau binatang peliharaan juga diperhitungkan. Pencatatan dapat dilakukan oleh petugas atau responden yang sudah mampu/telah dilatih dan tidak buta huruf. (Gibson, 1990).
Langkah metode inventaris :
1) Cata dan timbang/ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari pertama survei.
2) Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang diperoleh (dibeli, dari kebun, pemberian orang lain dan makan di luar rumah) keluarga selama hari survei.
3) Catat dan ukur semua bahan makanan yang diberikan kepada orang lain, rusak, terbuang dan sebagainya selama hari survei.
4) Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari terakhir survei.
5) Hitung berat bersih dari tiap-tiap bahan makanan yang digunakan keluarga selama periode survei.
6) Catat pula jumlah anggota keluarga dan umur masing-masing yang ikut makan.
7) Hitung rata-rata perkiraan kosumsi keluarga atau konsumsi perkapita dengan membagi konsumsi keluarga dengan jumlah anggota keluarga.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 90).
Peralatan yang diperlukan dalam metode inventaris antara lain :
1) Kuesioner.
2) Peralatan atau alat timbang.
3) Ukuran rumah tangga.

Kelebihan metode inventaris :
1) Hasil yang diperoleh lebih akurat karena memperhitungkan adanya sisa dari makanan, terbuang dan rusak selama survei dilakukan.
Kekurangan metode inventaris :
1) Petugas harus terlatih dalam menggunakan alat ukur dan formulir pencatatan.
2) Tidak cocok untuk responden yang buta huruf,bila pencatatan dilakukan oleh responden.
3) Memerlukan peralatan sehingga biaya relatif lebih mahal.
4) Memerlukan waktu yang relatif lama.

d. Pencatatan makanan rumah tangga (household record)
Pengukuran dengan metode household food record ini dilakukan dalam periode satu minggu oleh responden sendiri. Dilaksanakan dengan menimbang atau mengukur dengan URT (Ukuran Rumah Tangga) seluruh makanan yang ada di rumah termasuk cara pengolahannya.
Biasanya tidak memperhitungkan sisa makanan yang terbuang dan dimakan oleh binatang piaraan. Metode ini dianjurkan untuk tempat atau daerah, dimana tidak banyak variasi penggunaan bahan makanan dalam keluarga dan masyarakatnya sudah bisa membaca dan menulis. (Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 93)
Langkah-langkah metode household food record antara lain :
1) Responden mencatat dan menimbang atau mengukur semua makanan yang dibeli dan diterima oleh keluarga selama penelitian (biasanya satu minggu).
2) Mencatat dan menimbang atau mengukur semua makanan yang dimakan keluarga, termasuk sisa dan makanan yang dimakan oleh tamu.
3) Mencatat makanan yang dimakan anggota keluarga di luar rumah.
4) Hitung ratar-rata konsumsi konsumsi keluarga atau konsumsi perkapita.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 93)

Kelebihan metode household food record antara lain :
1) Hasil yang lebih akurat, bila dilakukan dengan menimbang makanan.
2) Dapat dihitung intake zat gizi keluarga.
Kekurangan metode household food record antara lain:
1) Terlalu membebani responden.
2) Memerlukan biaya yang cukup mahal,karena responden harus dikunjungi lebih sering.
3) Memerlukan waktu yang cukup lama.
4) Tidak cocok untuk responden yang buta huruf.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 93)

e. Metode Telepon
Dewasa ini survei konsumsi dengan metode telepon semakin banyak digunakan terutama untuk daerah perkotaan dimana sarana komunikasi telepon sudah cukup tersedia. Untuk negara berkembang metode ini belum banyak dipergunakan karena membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk jasa telponnya.
Langkah-langkah dalam metode telepon antara lain :
1) Petugas melakukan wawancara terhadap responden melalui telepon tentang persediaan makanan yang dikonsumsi keluarga selama periode survei.
2) Hitung persediaan makanan keluarga berdasarkan hasil wawancara melalui wawancara melalui telepon tersebut.
3) Tentukan pola konsumsi keluarga.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 93)

Kelebihan metode telepon yakni :
1) Relatif cepat karena tidak harus mengunjungi responden.
2) Dapat mencakup responden lebih banyak.
Kekurangan :
1) Biaya relatif mahal untuk rekening telepon.
2) Sulit dilakukan untuk daerah yang belum mempunyai jaringan telepon.
3) Dapat menyebabkan terjadinya kesalahan interpretasi dari hasil informasi yang diberikan responden.
4) Sangat tergantung pada kejujuran dan motivasi serta kemampuan responden untuk menyampaikan makanan keluarganya.
(Supariasa. 2002. Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hal 94)

3. Penilaian Konsumsi Makanan Tingkat Individu
Menurut I Nyoman Supariasa (2001) beberapa metode pengukuran konsumsi makanan untuk individu anatara lain :
a. Metode food recall 24 jam

Prinsip dari metode recall 24 jam, dilakukan dengan mencatat jenis dan jumah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini, responden, ibu atau pengasuh (bila anak masih kecil) diminta untuk menceritakaan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat tidur malam harinya atau dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Misalnya, petugas datang pada pukul 07.00 ke rumah responden, maka konsumsi yang ditanyakan adalah mulai pukul 07.00 (saat itu) dan mundur ke belakang sampai pukul 07.00, pagi hari sebelumnya. Wawancara dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dengan menggunakan kuesioner terstruktur.
Hal penting yang perlu diketahui adalah bahwa dengan recall 24 jam data yang diperoleh cenderung lebih bersifat kualitatif. Oleh karena itu, untuk mendapatkan data kuantitatif, maka jumlah konsumsi makanan individu ditanyakan secara teliti dengan menggunakan alat URT (sendok, gelas, piring, dan lain-lain) atau ukuran lainnya yang biasa dipergunakan sehari-hari.
Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1x24 jam), maka data yang diperoleh kurang represntatif untuk menggambarkan kebiasaan makanan individu. Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturut-turut, dapat menghasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur, 1997).
Langkah-langkah dalam pelaksanaan recall 24 jam antara lain :
1) Petugas atau pewawancara menanyakan kembali dan mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu. Dalam membantu responden mengingat apa yang dimakan, perlu diberi penjelasan waktu kegiatannya seperti waktu baru bangun, setelah sembahyang, pulang dari sekolah/bekerja, sesudah tidur siang dan sebagainya. Selain itu, dari makanan utama, makanan kecil atau jajan juga dicatat. Termasuk makanan yang dimakan di luar rumah seperti di restoran, di kantor, di rumah teman atau saudara. Untuk masyarakat perkotaan konsumsi tablet yang menagndung vitamin dan mineral juga dicatat serta adanya pemberian tablet besi atau kapsul vitamin A.
Petugas melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran berat (gram). Dalam menaksir/memperkirakan ke dalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan berbagai alat bantu seperti contoh ukuran rumah tangga (piring, gelas, sendok dan lain-lain) atau model dari makanan (food model). Makanan yang dikonsumsi dapat dihitung dengan alat bantu ini atau dengan menimbang langsung contoh makanan yang akan dimakan berikut informasi tentang komposisi makanan jadi.
2) Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).
3) Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia.
Agar wawancara berlangsung secara sistematis, perlu disiapkan kuesioner sebelumnya sehingga wawancara terarah menurut urut-urutan waktu dan pengelompokan bahan makanan. Urutan waktu makan sehari dapat disusun berupa makan pagi, siang, malam dan snack serta makanan jajanan.
Pengelompokkan bahan makanan dapat berupa makanan pokok, sumber protein nabati, sumber protein hewani, sayuran, buah-buahan dan lain-lain.
Kelebihan metode recall 24 jam antara lain :
1) Mudah melaksanakannya serta tidak terlalu membebani responden.
2) Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara.
3) Cepat,sehingga dapat mencakup banyak responden.
4) Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf.
5) Dapat memberikan gambaran nyata yang benar –benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari.
Kekurangan metode recall 24 jam antara lain :
1) Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari–hari bila hanya dilakukan recall satu hari.
2) Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden. Oleh karena itu, responden harus mempunyai daya ingat yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia 7 tahun, orang tua berusia 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa.
3) The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung untuk melaporkan konsumsinya lebih sedikit (under estimate).
4) Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatih dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat.
5) Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian.
6) Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall jangan dilakukan pada saat panen,hari pasar,akhir pekan, pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan dan lain-lain.
Karena keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara, maka untuk dapat meningkatkan mutu data recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari yang berbeda (tidak berturut-turut), tergantung dari variasi menu keluarga dari hari ke hari.
b. Metode Estimated Food Records
Metode ini disebut juga food records atau dietary records, yang digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Responden diminta mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan. Menimbang dalam ukuran berat pada periode tertentu, termasuk cara persiapan dan pengelolaan makanan. Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
Penjelasan lain tentang metode ini yakni metode yang dilakukan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini responden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk cara persiapan dan pengolahahan makanan tersebut.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan food records antara lain :
1) Responden mencatat makanan yang dikonsumsi dalam URT atau gram (nama masakan, cara persiapan dan pemasakan bahan makanan).
2) Petugas memperkirakan/estimasi URT ke dalam ukuran berat (gram) untuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi.
3) Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dalam DKBM.
4) Membandingkan dengan AKG.
Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya (true intake) tentang jumlah energy dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu.
Kelebihan metode estimated food records antara lain :
1) Metode ini relatif murah dan cepat.
2) Dapat menjagkau sampel dalam jumlah besar.
3) Dapat diketahui konsumsi zat gizi sehari.
4) Hasilnya relative lebih akurat.
Kekurangan metode estimated food records antara lain :
1) Metode ini terlalu membebani responden, sehingga sering menyebabkan responden merubah kebiasaan makannya.
2) Tidak cocok untuk responden yang buta huruf.
3) Sangat tergantung pada kejujuran dan kemampuan responden dalam mencatat dan memperkirakan jumlah konsumsi.
c. Metode Penimbangan Makanan (Food Weighing)
Responden atau petugas menimbang dan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dati tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia.
Terdapatnya sisa makanan setelah makan juga perlu ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah sesungguhnya makanan yang dikonsumsi.
Langkah-langkah pelaksanaan penimbangan makanan antara lain :
1) Petugas/responden menimbang makanan dan mencatat bahan makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gram.
2) Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan menggunakan DKBM atau DKGJ (Daftar Kompisis Gizi Jajanan).
3) Membandingkan hasilnya dengan kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG).
Kelebihan metode penimbangan makanan yakni :
1) Data yang diperoleh lebih akurat/teliti.
Kekurangan metode penimbangan makanan antara lain :
1) Memerlukan waktu dan cukup mahal karena perlu peralatan.
2) Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden dapat merubah kebiasaan makan mereka.
3) Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil.
4) Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden.

d. Metode Riwayat Makanan (Diethary History Method)

Metode ini bersifat kualitatif karena memberikan gambaran pola kunsumsi berdasarkan pengamatan dalam waktu yang cukup lama (bisa 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun). Burke (1947) menyatakan bahwa metode ini terdiri dari tiga komponen, yaitu :
1) Komponen pertama adalah wawancara (termasuk recall 24 jam), yang mengumpulkan data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir.
2) Komponen kedua adalah tentang frekuensi penggunaan dari sejumlah bahan makanan dengan memberikan daftar (check list) yang sudah disiapkan, untuk mengecek kebenaran dari recall 24 jam tadi.
3) Komponen ketiga adalah pencatatan konsumsi selama 2-3 hari sebagai cek ulang.
Langkah-langkah dalam metode riwayat ini antara lain :
1) Petugas menanyakan kepada responden tentang pola kebiasaan makannya. Variasi makan pada hari-hari khusus seperti hari libur, dalam keadaan sakit dan sebagainya juga dicatat. Termasuk jenis makanan, frekuensi penggunaan, ukuran porsi dalam URT serta cara memasaknya (direbus, digoreng, dipanggang dan sebagainya).
2) Lakukan pengecekan terhadap data yang diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan untuk kebenaran data tersebut.
Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengumpulan data adalah keadaan musim-musim tertentu dan hari-hari istimewa seperti hari pasar, awal bulan, hari raya dan sebagainya. Gambaran konsumsi pada hari-hari tersebut harus dikumpulkan.
Kelebihan metode riwayat makan antara lain :
1) Dapat memberikan gambaran konsumsi pada periode yang panjang secara kualitatif dan kuantitatif.
2) Biaya relatif murah.
3) Dapat digunakan di klinik gizi untuk membantu mengatasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan diet pasien.
Kekurangan metode riwayat makan antara lain :
1) Terlalu membebani pihak pengumpul data dan responden.
2) Sangat sensitif dan membutuhkan pengumpul data yang sangat terlatih.
3) Tidak cocok dipakai untuk survei-survei besar.
4) Data yang dikumpulkan lebih bersifat kualitatif.
5) Biasanya hanya difokuskan pada makanan khusus,sedangkan variasi makanan sehari-hari tidak diketahui.
e. Metode Frekuensi Makanan (Food Frequensi)
Metode ini untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Meliputi hari, minggu, bulan, atau tahun, sehingga diperoleh gambaran pola konsumsi makanan secara kualitatif. Kuesioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.
Selain itu dengan metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kuantitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi.
Kuesioner frekuensi makanana memuat tentang daftar tentang bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu.
Langkah-langkah metode frekuensi makanan:
1. Responden diminta untuk member tanda pada daftar makanan yang tersedia pada kuesioner mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya.
2. Lakukan rekapitulasi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu selama periode tertentu pula.
Kelebihan Metode Frekuensi Makanan:
a) Relative murah dan sederhana.
b) Dapat dilakukan sendiri oleh responden.
c) Tidak membutuhkan latihan khusus.
d) Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan.
Kekurangan Metode Frekuensi Makanan:
a) Tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari.
b) Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data.
c) Cukup menjemukan bagi pewawancara.
d) Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner.
e) Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi.

Food Frequency Questionnaire (FFQ) telah digunakan secara luas, terutama pada penelitian epidemiologi penyakit kronik, untuk melihat pola makan dari individu yang menjadi subjek penelitian. Pertanyaan didesain untuk mengukur asupan secara umum dan asupan jangka panjang (Feskanich et al. 1993 dalam Lu, Yi-Ping. 2000). FFQ terdiri dari dua bagian yaitu daftar makanan atau kelompok makanan dan respon yang mengindikasikan seberapa sering makanan atau kelompok makanan dikonsumsi selama periode waktu tertentu. Daftar bahan makanan dapat berupa daftar singkat dan fokus pada zat gizi tertentu hingga daftar yang memuat beberapa ratus makanan yang didesain untuk mengukur diet total.
Frekuensi respon pilihan dapat dibuat secara umum (seperti sering, kadang-kandang, dan tidak pernah) atau lebih rumit dan spesifik (seperti: jumlah konsumsi perhari, perminggu, perbulan), periode waktu dalam mengingat, umunya dari 1 bulan hingga 1 tahun (Wright & Guthrie, 1995 dalam Lu, Yi-Ping. 2000).
Metode frekuensi makanan ini adalah untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu. Periode waktu dapat ditentukan oleh si peneliti sesuai dengan tujuan penelitian seperti dalam jangka waktu hari, minggu, bulan atau tahun (Supariasa, 2001).
Tujuan dari metode frekuensi makanan ini adalah untuk memperoleh gambaran pola konsumsi makanan atau bahan makanan secara kualitatif. Kuestioner frekuensi makanan memuat tentang daftar bahan makanan atau makanan dan frekuensi penggunaan makanan tersebut pada periode tertentu. Metode ini dapat digunakan dalam menegakkan suatu hipotesis bahwa jumlah konsumsi zat gizi pada masa lalu bila dikaitkan dengan resiko penyakit jauh lebih penting dari apa yang dimakan pada saat sekarang. Namun dengan penggunaan metode ini, presisi pengukuran (penimbangan makanan) diabaikan. Hal ini untuk dapat menggali informasi kebiasaan makan makanan tertentu pada waktu yang lebih lama (Gibson, 1990).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar